Minggu, 10 Maret 2019

Review Buku BERBEDA ITU SERU


Yeaayyy akhirnya selesai juga saya membaca beberapa buku dalam bulan ini. Sudah agak lama nggak update blog ini ya *hempaskan debu-debu hahaha

Kali ini saya mau review satu buku yang dibuat oleh teman saya, Dinda Nocyandri, M. Psi. Berlatar belakang psikologi pendidikan dan menghabiskan banyak waktu dengan anak-anak membuat Dinda menciptakan karya sebuah buku sebagai salah satu alat bantu mengedukasi dan mensosialisasikan bagaimana berinteraksi dengan anak-anak yang berkebutuhan khusus.

Teman-teman pernah mendengar pendidikan inklusi?

Pendidikan inklusi adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan pada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.
Atau, dengan sederhana dapat dikatakan menggabungkan anak-anak dengan kebutuhan khusus dengan anak-anak lainnya di dalam satu kelas yang sama.

Lha, gimana ngajarin ABK dan anak biasa di dalam satu kelas?

Bisa! Tentunya sekolah penyelenggara pendidikan perlu memastikan beberapa hal ini terjadi di ruang kelas:
  1. Sekolah menyediakan lingkungan yang ramah anak, fasilitas yang mendukung agar setiap anak dapat belajar dan bermain dengan nyaman dan aman
  2. Pengajar mampu mengelola kelas yang heterogen dengan pendekatan pembelajaran individual, misalnya dengan mengubah format pelajaran, strategi mengajar, memodifikasi bahan pengajaran, menyediakan aktivitas alternative, dan menyediakan asistensi personal untuk anak (atau dikenal dengan shadow teacher)
  3. Memberikan sosialiasi kepada anak-anak agar dapat belajar dan bermain bersama dengan teman-temannya yang berkebutuhan khusus.

Oke, gak pake panjang lebar lagi langsung aja kita bahas tentang buku ini

Deskripsi Buku


Judul Buku: Berbeda Itu Seru
Pengarang : Dinda Nocyandri, M. Psi, Psikolog, CGA
Penerbit    : Meliora Learning Academy
Jumlah hal : 42 halaman

Resume:
Buku ini bertujuan untuk mensosialisasikan cara mengenal, bermain, dan beradaptasi dengan teman yang berkebutuhan khusus. Buku ini berisi empat cerita utama, yaitu:
  1. Tentang Galan yang autis
  2. Tentang Billy yang selalu bergerak
  3. Tentang Kay-Kay yang memakai alat bantu dengar
  4. Tentang Juna yang tidak berbicara



REVIEW BUKU

Buku ini menceritakan ABK yang mungkin ada di sekitar kita, lengkap dengan ciri atau karakteristik khususnya. Misalnya aja di cerita tentang Galan, disitu disebutkan apa saja ciri Galan yang autis , bagaimana Galan mempersepsi sekitarnya berbeda dengan kita yang normal, dan kebutuhan Galan akan guru pendamping (shadow teacher). Buku ini juga dikemas dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak, ditambah dengan ukurannya yang sebesar A4 dan full color membuatnya menarik bagi anak-anak.

Poin yang penting juga, disini anak-anak diberitahu bagaimana berinteraksi dengan teman ABK sesuai kebutuhan mereka. Misalnya, kalau Galan sedang merasa tidak nyaman maka dia akan menepuk-nepuk bagian tubuhnya. Nah, teman-teman Galan bisa mengingatkan Galan bahwa tidak ada yang berbahaya atau menyampaikan hal itu kepada shadow teacher. Contoh lain, ketika Kay-Kay tidak mendengar saat diajak bicara kita bisa bantu memeriksa apakah baterai di alat bantu dengarnya perlu diganti. 

Jadi melalui buku ini, kita bisa membantu anak memahami bahwa ada anak-anak berkebutuhan khusus di sekitar kita, bahwa kita tidak perlu takut atau menjauhi mereka, justru kita bisa tetap bermain bersama mereka. Secara tidak langsung anak-anak juga bisa belajar berempati dengan teman-temannya yang berkebutuhan khusus.


Galan dan teman-teman

Kay-Kay pakai alat bantu dengar



Beli dimana?
Belinya bisa langsung menghubungi
Dinda  : 085210756266
Meliora: 085858709355

Masih ada tiga buku lagi buat direview. Menyusul yaaaah :)








Rabu, 20 Februari 2019

LIMA KETERAMPILAN NON-AKADEMIK UNTUK ANAK


Sudah pernah baca buku karya Amy Chua yang berjudul Battle Hymne of the Tiger Mother? Ini adalah salah satu buku parenting yang banyak menuai pro-kontra karena isinya yang sangat provokatif. Saat ini sih saya belum selesai membaca buku ini, tapi sejauh ini sudah cukup membuat saya merasa WOW, hehehe. Buku ini mengisahkan pengalaman pribadi Amy Chua dalam membesarkan kedua anak perempuannya dengan cara yang sangat Chinese yang bertentangan dengan pengasuhan ala Barat. Tapi saya bukan mau me-review buku, kok. Sekedar ingin membagi insight. Membaca buku ini membuat saya tertegun, bahwa yang namanya orangtua pada dasarnya ingin yang terbaik bagi anak sebagai upaya mereka mempersiapkan masa depan yang cemerlang. Mengenai tipe pengasuhan apa yang dianut, semuanya kembali kepada nilai-nilai atau berbagai pertimbangan lainnya yang dimiliki orangtua.

Sumber: www.google.com

As I often said to the girls, “My goal as a parent is to prepare you for the future – not to make you like me.” (Amy Chua, Battle Hymne of  the Tiger Mother, 2011)
Saya setuju dengan ucapan tersebut. Sebagai orangtua, saya ingin yang terbaik untuk anak saya, terutama dalam menghadapi dunia dengan segala tantangannya. Saya ingin anak saya sukses, berhasil, dan mapan. Saya mau ia nantinya tidak punya keterbatasan finansial untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder, bahkan kebutuhan tertiernya. Saya yakin, pendidikan adalah cara untuk mencapainya. Pendidikan adalah cara mencapai kesuksesan.

Saya ingat sekali betapa orangtua saya menekankan kami, anak-anaknya, untuk selalu belajar dan mendapat peringkat yang bagus. Saya dituntut masuk ke sekolah negeri: SMPN 75, lalu ke SMAN 78, dan PTN. Betapa seringnya saya dicekoki cerita tentang kesuksesan uda-uda dan namboru saya yang namanya tersohor sampai ke kampung halaman di Samosir, Sumatera Utara. Bukan sombong, tapi saya hampir selalu bisa membanggakan orangtua saya dalam hal akademis. Semua yang mereka tuntut dapat saya usahakan, dan membanggakan mereka membahagiakan saya.


APAKAH CUKUP HANYA KEMAMPUAN AKADEMIS SAJA?

Saya ingat ketika anak saya baru mulai belajar berjalan di sewaktu usianya masih 9 bulan. Ia tidak seimbang, baru berjalan 1-2 langkah lalu sudah jatuh. Saat jatuh ia akan menangis, mencari saya, menunggu bagaimana saya merespon. Seperti ibu-ibu lain saya akan bilang, “Gapapa ya, Sola. Anak pintar. Sekarang bangun yuk, coba jalan lagi,” diiringi dengan tepuk tangan sambil bersorak.  Padahal hati carut marut lihat anak jatuh di depan mata. Ingin segera lari mengangkat, tapi ada sebagian diri saya menunggu dia bangkit sendiri. Saya memperhatikan tetapi tidak menolong setiap waktu.

Akan ada masa dimana kita tidak lagi bersama anak-anak kita. Yang ingin kita berikan adalah semua bekal untuk menghadapi masa depan. Ini semua tentang bagaimana mereka dapat bertahan tanpa kita kelak.

Faktor yang menentukan kesuksesan bukan hanya prestasi akademis. Sebut saja tokoh terkenal yang tidak begitu sukses dalam pendidikan di sekolah, Thomas Alva Edison. Semasa kecil ia dianggap bodoh, tertinggal, dan putus sekolah tetapi akhirnya ia justru dikenal sebagai penemu lampu listrik setelah 9955 kali percobaan. Disini ada kegigihan, keuletan, semangat, dan sikap positif lainnya yang dimiliki Thomas Alva Edison.

Sumber : www.google.com

Nggak, saya nggak muluk-muluk mengharapkan anak saya menjadi penemu seperti Edison. Ya, kalau dia bisa sih saya amin-kan saja. Sebagai orangtua saya ingin dia sukses dalam versi terbaik dari dirinya. Mudah-mudahan saya dan suami diberi rejeki yang cukup untuk menyekolahkan anak, mendidiknya dalam nilai-nilai yang positif, dan mendukungnya dalam berbagai keterampilan –praktis atau softskill- yang pasti berguna bagi masa depannya kelak.


KETERAMPILAN NON AKADEMIK

Bicara soal keterampilan, menurut saya keterampilan non-akademik juga perlu dikembangkan. beberapa waktu yang lalu saya sempat bertanya mengenai pentingnya keterampilan non-akademik di instagram story. 65% dari teman-teman peserta voting setuju bahwa anak perlu diberikan les tambahan non-akademik.

Sumber : instagram pribadi


Hasil sharing menyebutkan beberapa keterampilan dasar yang perlu dajarkan kepada anak antara lain:

BERENANG
Sumber : www.google.com

Berdasarkan data dari WHO, dilansir VOA Indonesia, lebih dari setengah jumlah orang yang tewas karena tenggelam berusia 25 tahun ke bawah, dan paling banyak anak di usia di bawah lima tahun.  Lebih mengerikannya, setiap tahun sekitar 372.000 orang mati tenggelam dan tingkat kematian tertinggi terdapat di wilayah Afrika, Pasifik Barat, dan Asia Tenggara. Jadi, kemampuan berenang ini sebenarnya adalah salah satu kemampuan bertahan hidup yang wajib dimiliki oleh anak.

Selain faktor diatas, berenang juga memberikan banyak manfaat kesehatan dan kesenangan bagi anak. Berenang membuat paru-paru sehat, meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas, meningkatkan stamina, bahkan dapat memperbaiki postur tubuh. Kesadaran akan keterampilan ini sepertinya sudah banyak disadari orangtua muda. Di Jakarta saja sudah banyak tempat les renang, bahkan mulai dari kelas bayi. Jadi ini adalah must have skill yang akan saya perkenalkan kepada anak di usianya nanti yang ke-dua. Siapa tahu nanti bisa jadi atlet juga J


MEMBELA DIRI
Sumber : www.google.com

Berdasarkan data KPAI, dikutip dari Tempo.com, kasus kekerasan pada anak pada anak di tahun 2018 mencapai 445 kasus, dimana 288 (51,2%) kasus di dalamnya adalah kekerasan fisik, verbal, dan seksual. Kekerasan bisa dilakukan oleh teman sebaya, guru, atau orang dewasa lainnya. Kejadian kekerasan sangat besar kemungkinannya terjadi di luar jangkauan kita, sehingga sangat penting bagi anak untuk dapat membela diri di saat-saat yang berbahaya.

Tidak ada salahnya mengikutsertakan anak pada kelas diri fisik seperti taekwondo atau martial art. Selain itu, anak juga perlu dibekali kemampuan yang meliputi kewaspadaan terhadap lingkungan, belajar mempercayai insting, fokus pada menghindar daripada mengkonfrontasi, bagaimana mencari jalan keluar dari situasi yang berbahaya, dan kepada siapa anak harus mencari pertolongan.


BAHASA ASING
Sumber : www.google.com

Kemampuan berbahasa asing ini amat diperlukan, apalagi dunia kini semakin terhubung antara satu negara dengan negara lain. Terciptanya banyak kerjasama dan hubungan internasional mengharuskan anak-anak kita kelak dapat berkomunikasi menggunakan ragam bahasa yang berbeda-beda. Dalam belajar bahasa, bahasa Inggris masih jadi favorit untuk disandingkan dengan bahasa Indonesia, selain bahasa Mandarin. Nah, kita bisa mulai memaparkan bahasa asing ini kepada mereka sejak mereka masih kecil. Yang penting menurut saya adalah konsistensi dalam mempraktekkannya. 

Tapi nanti anaknya bingung kalau diajarkan bilingual?

Jangan kuatir! Menurut seorang ahli, Francois Grosjean, pada dasarnya anak itu (dimana pun berada) tumbuh tidak dengan satu bahasa saja. Misalnya, saya sendiri yang tumbuh dengan basis bahasa Batak dan bahasa Indonesia. Atau teman saya yang tumbuh dengan basis bahasa Jawa, Sunda, dan Minang.

Grosjean berpendapat bahwa anak akan mengembangkan kemampuan berbahasanya jika ada kebutuhan untuk itu dan interaksi di lingkungan menciptakan kebutuhan tersebut. Menurutnya, cara terbaik untuk mengajarkan anak bilingual atau lebih adalah dengan menggunakan satu bahasa di rumah, dan bahasa lain di luar rumah. Sehingga jelas di pikiran anak bahwa untuk berinteraksi di rumah ia harus menggunakan bahasa X, sedangkan diluar rumah ia harus menggunakan bahasa Y. Lebih lengkapnya mengenai paparan yang disampaikan Grosjean bisa dibuka disini.



CODING
Pada kenyataannya, semua pekerjaan di masa depan terkait erat dengan keterampilan pemrograman komputer. Jika kita tidak tahu bagaimana memprogram, kita hanya akan terus menjadi konsumen atas dunia yang semakin maju ini. Sehingga menjadi penting untuk tahu bagaimana menavigasi dunia di era digital ini dengan kemampuan mengatur dan mengoperasikan komputer.

Ada sebuah video menarik yang membuka mata saya akan kebutuhan keterampilan ini :

Sumber : https://code.org/promote

Meskipun terdapat banyak situs pembelajaran online, untuk keterampilan ini saya lebih setuju belajar praktek di tempat kursus dengan tutor yang berpengalaman. Tempat yang saya rekomendasikan adalah DUMET School yang menawarkan jadwal fleksibel, semi private, belajar sampai bisa, dan bahkan gratis konsultasi setelah lulus.

Dalam modul Coding For Kids, anak-anak usia 6-12 tahun akan mempelajari bagaimana membuat game interaktif, dasar-dasar sebuah program, dan melatih cara berpikir murid agar lebih terstruktur. Setelah lulus, anak-anak akan bisa membuat hasil karya game sederhana sendiri dan akan lebih mudah menguasai bahasa program lain. Tidak hanya itu, DUMET School juga menawarkan modul Design For Kids yang memampukan anak untuk membuat karya desain grafis sederhana sendiri dan melatih daya kreatifitas anak.

Menariknya, DUMET School juga memberikan FREE TRIAL bagi anak dan saat ini juga sedang mengadakan promo harga untuk bundling dua modul sekaligus, diskon sampai dengan Rp. 1.500.000. 


Promo Bundling 2 program
Buat ibu-ibu, dua hal diatas penting banget ya kan? Anak bisa maksimal belajar dengan harga lebih terjangkau.


KESENIAN
Sumber : www.google.com

Sebagai mantan penyanyi paduan suara di masa lalu, bernyanyi adalah salah satu cara saya mengekspresikan diri. Sampai sekarang pun masih, hanya saja levelnya sudah turun menjadi penyanyi kamar mandi saja. Hahaha. Ya, kadang-kadang masih bernyanyi di gereja dan beberapa event undangan. Tidak hanya rasa senang saat bernyanyi, saya juga merasa dapat “melepaskan beban” sejenak dari rutinitas yang saya jalani.

Secara umum banyak manfaat yang bisa didapatkan dari kesenian, misalnya meningkatkan kreativitas, mendorong anak untuk meningkatkan kemampuan akademis, meningkatkan kepercayaan diri, kegigihan, fokus, dan kerjasama.

Tidak seperti saya yang hanya bisa mengolah vokal, saya ingin memberikan sebanyak mungkin pengalaman berkesenian terutama bermain alat musik kepada anak. Pilihan favorit saya sih masih piano dan biola. Kenapa? Ya karena saya suka aja, hehehe. Lebih lagi, jika kemampuan bermusik ini dikembangkan secara professional, anak dapat menjadikannya sebagai salah satu sumber pemasukannya kelak.


Nah itu tadi beberapa keterampilan non-akademik yang bisa kita ajarkan kepada anak untuk mempersiapkannya menjalani kehidupannya sekarang dan kelak. Tentu semuanya dibarengi dengan doa, konsistensi, kesabaran, kemampuan orangtua mengatur keuangan. Hahaha. Karena semua pakai biaya, Jendral! Semangat J


Tulisan ini diikutsertakan pada DUMET School Blog Competition Periode Februari 2019

Rabu, 30 Januari 2019

ASUS ZENFONE MAX M2, PONSEL ANDALAN UNTUK GAMING ++


Bicara soal ponsel gaming, ada masa dimana saya belum paham betul tentang spesifikasi ponsel untuk main games padahal lagi cinta-cintanya main games di situ. Dampaknya, saya jadi sering banget ngalamin ponsel panas, nge-hang, lemot, dan lainnya. Aktivitas gaming terpaksa dihentikan, menunggu si ponsel adem dan siap digunakan kembali. Tapi kan kesel, lha wong main games paling sering dilakukan di jalan menuju dan pulang kantor, sambil nunggu Transjakarta yang datengnya seabad sekali atau waktu di kereta yang penuh sesak kayak ikan teri di ember. Niat hati itu main games supaya mengurangi stres di perjalanan, tapi kalau ponsel sudah berulah, ya sudah gagal deh, ga jadi main! Begitulah kalau punya ponsel yang dipaksakan. Spesifikasi ponsel saya tidak kuat untuk gaming, ditambah lagi aplikasi lainnya yang membuat kerja ponsel saya semakin berat. Saya pun terpaksa menghapus beberapa aplikasi dan mengunduhnya lagi saat diperlukan. Repot bener ya? Lama kelamaan minat saya bermain game pun luruh.

Kini, ditengah kesibukan saya sebagai ibu rumah tangga, saya kembali mulai menggemari bermain games di ponsel untuk menghilangkan kebosanan. Main game dilakukan sambil menemani anak tidur siang atau ketika saya sulit tidur malam hari. Namun, berkaca dari pengalaman masa lalu, saya ingin punya ponsel yang lebih mumpuni, dong! Sebelum memilih ponsel baru, saya menyelidiki ternyata ada beberapa penyebab yang membuat aktivitas main game terhambat, seperti terlalu banyak mengunduh aplikasi, terlalu banyak aplikasi berjalan, RAM kecil, atau mungkin game yang tidak sesuai dengan versi Android.

Oleh karena itu, ada beberapa kriteria –versi saya-yang wajib dipenuhi saat memilih ponsel baru: Prosesornya kencang, RAM memadai, baterai tahan lama, fungsi kamera dan audio yang bagus, tetap harus stylish, ringan bobotnya dan harga terjangkau.


PERKENALKAN, ASUS ZENFONE MAX M2

Foto : www.asus.com


Setelah berkelana beberapa waktu mencari spesifikasi yang sesuai, akhirnya saya menetapkan hati ke salah satu ponsel keluaran ASUS yaitu Zenfone Max M2. Sebagai ibu rumah tangga dengan banyak prioritas kebutuhan tapi tetap mau kece dan bisa main game, ponsel ini merupakan alternatif ponsel gaming dengan harga terjangkau yang memiliki performa maksimal di kelasnya. Dengan budget sekitar 2 jutaan saja kita sudah bisa membawa pulang Asus Zenfone Max M2. Kita lihat satu persatu, yuk!

Performa yang Kuat
Zenfone Max M2 menggunakan sistem operasi Android Oreo 8.0 dan didukung oleh Central Processing Unit (CPU) dan Graphic Processing Unit (GPU) yang terbaik untuk kebutuhan gaming. CPU adalah pengendali jalannya system dalam android, ibaratnya seperti otak komputer. Prosesor yang digunakan adalah Qualcomm Snapdragon 632 yang memberikan performa kuat. Ini menjadikannya lebih cepat, lebih hemat daya dan tidak panas. Sedangkan GPU (Graphic Processing Unit) adalah semacam perangkat yang membantu CPU memproses dan menampilkan gambar/grafik dengan baik. Zenfone Max M2 sudah didukung oleh GPU Adreno 506. Kerja prosesor ini juga didukung oleh RAM sampai dengan 4GB. Tahu kan, semakin besar kapasitas RAM, semakin besar pula informasi yang dapat disimpan di dalamnya, dan menghasilkan performa yang semakin lancar. Zenfone Max M2 tersedia dalam dua pilihan, yaitu RAM 4GB/internal 64GB dan RAM 3GB/internal 32GB.

Ringan dan Stylish
Ponsel ini hadir dengan desain bodi baru yang lebih ramping dan ringkas, dengan premium metal finish serta tiga pilihan warna yaitu Midnight Black, Space Blue, atau Meteor Silver. Dengan berat hanya 160 gram dan dimensi ketebalan 7,7 mm bikin saya makin suka karena tidak terkesan bulky untuk ponsel gaming.

Baterai Tahan Lama dan Display Luas
Zenfone Max M2 dilengkapi dengan baterai li-polimer 4000mAH. Asus mengklaim bahwa kemampuan baterai ini luar biasa bisa bertahan selama 2 hari pemakaian normal.

Foto: www.asus.com

Selain itu, ZenFone Max M2 menggunakan layar 6,3 inci dan resolusi HD+ dengan aspek rasio 19:9 dan screen-to-body ratio hingga 88 persen. Wah, ini sangat menyenangkan sekali! Kita dimanjakan dengan display yang luas saat bermain game. Bagi saya, ini memberikan rasa nyaman tersendiri. Selain itu, saya juga bisa puas marathon nonton drama Korea kesukaan saya di layar yang lebar atau mendengarkan musik favorit tanpa harus bolak balik mengisi daya baterai.

KAMERA DAN AUDIO MEMIKAT
Zenfone Max M2 mengusung sistem dual-camera. Dengan resolusi 13 MP+2MP dan aperture F1.8, kamera belakang ZenFone Max M2 dapat mengambil foto dengan jelas dan detil. Sedangkan kamera depan dilengkapi dengan resolusi 8MP dan aperture F2.0 lengkap dengan Softlight LED Flash. Asus juga melengkapi ponsel ini dengan fitur Al Scene Detection yang secara otomatis mendeteksi latar gambar dan mengoptimalkan setting foto yang sesuai (ada 13 tipe setting foto). Kamera ponsel yang mumpuni amat penting bagi saya, karena saya juga menggunakan ponsel untuk memfoto barang jualan saya di media sosial.

Pengalaman audio dengan Zenfone Max M2 juga tidak kalah bagus. Dibekali dengan 5 magnet speaker dan amplifier NXP dengan distorsi rendah, ponsel ini mampu memberikan suara yang kuat, jelas, dan jernih. Pas kan, kalau dipakai mendengarkan musik favorit saya atau memutar lagu-lagu nursery rhymes untuk puteri saya, hehehe.

RUANG PENYIMPANAN YANG BESAR
Zenfone Max M2 memiliki 2 slot SIM Card 4G LTE dengan kecepatan lebih dari 300Mbps7 dan juga slot microSD yang bisa menampung data sampai dengan 2TB. Dengan triple shot seperti ini, artinya saya bisa menyimpan lebih banyak data. Hore!

Tabel Spesifikasi Asus Zenfone Max M2, sumber : www.asus.com, infografis : Helena


KESIMPULAN
Zenfone Max M2 adalah alternatif ponsel gaming yang menawan di kelasnya, apalagi ponsel ini juga menawarkan kelebihan seperti prosesor, baterai, kamera, audio, kapasitas, dan lainnya yang membuat saya tidak ragu memilihnya. Ponsel ini tidak sekedar untuk bermain game, tetapi juga mendukung untuk lifestyle. Dengan harga yang terjangkau, hanya 2 jutaan saja, banyak kelebihan yang ditawarkan oleh Zenfone Max M2.



Catatan : Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi yang diadakan oleh Blog Om Yahya






Senin, 28 Januari 2019

Si Kecil Aktif Berkat Asupan Sehat : Review Susu UHT



Akhir tahun 2018 yang lalu, ceritanya saya mulai belajar lebih dalam mengenai Montessori. Tujuannya tentu supaya saya bisa menerapkan metode ini di rumah ya, ibu-ibu. Menerapkannya secara langsung nanti kepada anak tentu memberi perspektif berbeda bagi saya sebagai ibu. Dari sini jugalah saya mengenal ada yang dinamakan periode sensitif. Periode sensitif adalah periode tertentu dalam hidup anak dimana ia fokus menyerap satu karakteristik dari lingkungannya dan mengenyampingkan yang lain. Disebutkan juga bahwa dalam periode ini anak memilliki sensitivitas yang kuat terhadap satu pengetahuan atau keterampilan baru. Sensitivitas ini berlangsung pada suatu periode dan tidak berulang. Gampangnya begini, ini adalah masa-masa ketika anak suka sekali mengulang-ulang suatu kegiatan tanpa alasan yang jelas. Misalnya membuka dan menutup tutup botol atau mengambil dan mengembalikannya sesuatu ke tempatnya berulang kali.


PERIODE SENSITIF PADA BENDA KECIL DAN PADA INDERA

Periode ini biasanya dimulai pada usia sekitar satu tahun. Putri saya, Sola, sudah mulai bisa berjalan di usia sembilan bulan. Seiring dengan meningkatnya kelancaran berjalan, tingkat keaktifannya meningkat 100%. Keterampilan lain yang ikut berkembang misalnya memanjat kursi atau sofa dan naik turun anak tangga. Daerah jajahannya juga sudah sampai ke dapur dan kamar gudang di rumah. Lama kelamaan Sola mulai suka menjelajah ke area yang lebih luas, misalnya teras atau ke halaman rumah. Perhatiannya pun mulai tertuju pada benda-benda kecil, seperti batu kerikil, daun gugur, atau semut.
"The senses, being explorers of the world, open the way to knowledge. Our apparatus for educating the senses offers the child a key to guide his explorations of the world, they cast a light upon it which makes visible to him more things in greater detail than he could see in the dark, or uneducated state." -Maria Montessori, The Absorbent Mind.
Pada dasarnya anak memiliki keingintahuan yang kuat dan memerlukan benda-benda untuk dieksplorasi. Anak belajar melalui indera, dimana ia belajar dengan menyentuh, mencium, melihat, mendengar, dan merasa. Adalah tugas orangtua untuk memberikan kesempatan mengeksplor lingkungannya dan menstimulasi inderanya, dan tidak selalu kuatir masalah kebersihan dan keselamatan yang ringan.


DUNIA LUAR YANG MENYENANGKAN

Tiga tahun pertama adalah usia yang menyibukkan bagi anak. Banyak hal yang dipelajari anak dalam proses tumbuh kembangnya. Anak-anak juga suka di lingkungan outdoor, sehingga mempunyai banyak kesempatan mengeksplorasi dan belajar hal-hal baru atau hanya sekedar menghirup udara segar. Saya sendiri sudah melakukannya bersama Sola, hehehehe. Kadang-kadang kami berjalan-jalan sekeliling halaman rumah, atau Sola ikut menemani papanya mencabut rumput di halaman. Kan dia jadi bereksplorasi dalam hal penciuman atau penglihatan.

Kebetulan Opung datang, jadi harus nemenin Sola main di halaman

Paling happy kalo diajak main di teras rumah

Tapi seringkali kita sebagai orangtua banyak cemasnya, ya kan? Hayo ngaku, hehehe. Saya sendiri juga gitu kok. Kadang anak jalan jauh dikit, sudah dipanggil-panggil. Kadang anak pegang pasir eh sudah langsung diraih tangannya dan dibersihkan pakai tisu basah. Paling sering sih keluar ucapan "Duh, awas jatuh!" "No, no, no, jangan pegang, jangan ini, jangan itu." Ya, namanya juga ibu-ibu, kuatir pasti ada. Tanamkan konsep bahwa anak yg aktif itu sehat kok, biarkan mereka bersenang-senang dalam permainannya. Yang penting kita senantiasa mengawasi dan selalu berada di dekatnya. Malahan, kalau terlalu sering dilarang nanti anak bisa tumbuh menjadi anak yang takut mencoba.

Jadi, tugas orang tua selain adalah menyediakan lingkungan yang mendukung anak bereskplorasi juga adalah memastikan kebutuhan gizi seimbang anak terpenuhi. Kebutuhan nutrisi yang tidak terpenuhi menyebabkan anak tidak punya energi untuk bereksplorasi melalui belajar dan bermain, bahkan dampak jangka panjangnya adalah tidak optimalnya perkembangan motorik, fisik, dan kognitif  Dengan asupan nutrisi yang tepat, anak akan memiliki daya tahan tubuh yang baik dan gak gampang sakit. Hal ini bisa bikin orangtua tenang membiarkan anak beraktivitas di luar rumah di masa tumbuh kembangnya. Setuju ibu-ibu? 


SUSU UNTUK BALITA

Selain ASI dan makanan padat, Sola juga sudah saya kenalkan dengan susu lain sebagai tambahan. Merujuk pada Academy of Pediatrics bahwa susu segar (whole milk) dapat diberikan pada usia anak diatas 1 tahun dengan catatan anak juga mendapatkan gizi seimbang dari makanan padatnya. Diantara berbagai produk susu segar, susu UHT memiliki kandungan mendekati susu segar. Pilihan saya pun jatuh pada susu Indomilk UHT Kids Full CreamSusu UHT ini dibuat dari susu segar yang dipanaskan pada suhu tinggi (140-145 derajat C) dalam waktu yang singkat 4 detik yang akan membunuh bakteri jahat. 


Susu Indomilk UHT Kids Full Cream pilihan saya


MENGAPA UHT INDOMILK KIDS FULL CREAM?

Saya sempat mencoba dua merk lain, tapi kurang cocok untuk Sola. Begitu beralih ke Indomilk Kids Full Cream eh anaknya mau. Jadi, pertimbangan saya memilih produk ini antara lain:

Kandungan Nutrisi Lengkap
Tubuh tidak dapat memproduksi kalsium, padahal kalsium amat dibutuhkan untuk pembentukan dan mempertahankan kepadatan tulang dan gigi. Dari beberapa bacaan saya mendapat simpulan bahwa kalsium bisa didapat dari dairy product, salah satunya adalah susu. Selain tinggi kalsium, Susu Indomilk UHT Kids Full Cream juga tinggi Fosfor, Vitamin D untuk membantu penyerapan kalsium, dan sumber vitamin A, B1, dan B6. Oh iya, produk ini sudah bisa diberikan pada bayi berusia 1 tahun lho.



Informasi Nilai Gizi
Tidak Mengandung Gula dan Garam Tambahan
Ternyata konsumsi garam yang berlebihan dapat membuat kerja ginjal menjadi lebih berat. Selain itu, kandungan gula tambahan bisa menyebabkan kegemukan dan mengganggu pertumbuhan gigi anak. Nah berita baiknya, susu Indomilk UHT Kids Full Cream ini tidak mengandung gula dan garam tambahan. No worries, mommy!

Kemasannya Praktis
Kemasan susu Indomilk UHT Kids Full Cream terbilang praktis dengan ukurannya 115ml sehingga bisa habis dalam sekali minum. Kemasannya yang kecil juga memudahkan anak memegang susu, apalagi ketika dibawa beraktifitas oleh anak. Kemasannya juga ready to go banget ketika dibawa bepergian, tidak makan banyak tempat di dalam diaper bag atau tas saya.

Ini lagi bahas rumput yang bergoyang ya, nak? Hehehe
Anak aktif ya anak sehat dong!

Eh iya, ibu-ibu ada info menarik! Saat ini Susu Indomilk UHT Kids Full Cream mengadakan blog competition dengan total hadiah 15 juta Rupiah. Syaratnya mudah sekali, sayang kalau gak ikutan :) Silakan cek langsung ke sini ya. Ingat, batas kompetisinya hanya sampai 31 Januari 2019. Yuk, ikut meramaikan!



-Tulisan ini diikutsertakan dalam blog competition Indomilk UHT Kids Full Cream #AktifItuSehat


Review Buku BERBEDA ITU SERU

Yeaayyy akhirnya selesai juga saya membaca beberapa buku dalam bulan ini. Sudah agak lama nggak update blog ini ya *hempaskan debu-debu ha...